Posts Tagged ‘Haji Ung’

BANG BEN : Perkutut Berhenti di Lampu Merah

 

Pernah dicap kampungan tapi sekarang anak muda menggandrunginya. Mahir menyelipkan kritik lewat lagu yang kocak. Tak jarang pula erotik.

OLEH: JAY AKBAR

MANTAN Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter pernah berkata, “Jika anda ingin tahu Amerika, dengarlah Bob Dyland”.  Mungkin juga dalam hal tertentu demikian pula lagu-lagu benyamin: mengantarkan pendengarnya menyelami kota Jakarta pada zamannya.

Lagu-lagu Ben, demikian ia akrab disapa, memang banyak melukiskan rona kehidupan orang Jakarta. Lewat lagunya ia bicara mulai got mampet, dua tetangga yang berselisih, pertengkaran tukang kredit sampai soal memandikan burung perkutut. Semua ia ceritakan dengan kata-kata sederhana, mudah dicerna, dan seringkali penuh jenaka.

“Kehadiran Benyamin melalui karya-karya yang mengangkat persoalan sehari-hari warga masyarakat, betawi khususnya, menjadi semacam maujud dari seluruh kebudayaan betawi itu sendiri. Lewat karyanya itu ia menjelma menjadi ikon regional dan bahkan nasional yang melampaui batas-batas geografis budaya betawi. Benyamin adalah manifestasi terbesar yang dimiliki oleh betawi,” kata sejarawan dari Komunitas Bambu JJ. Rizal kepada majalah-historia.com. Read more »

Benyamin Suaeb : Ikon Betawi dari Kemayoran

OLEH: MF. MUKTHI – Majalah Historia

 

Dia berhasil  jadi Ikon orang Betawi. Ada harga mahal yang harus dibayar: rumah tangganya berantakan.

SEBUAH pekarangan rumah di salah satu kampung di Kemayoran, Jakarta. Seorang bocah enam tahun asyik bermain pada suatu siang tahun 1940-an. Kulitnya legam, berbadan cebol dan tambun. Ia hanya bercelana kolor.

Tiba-tiba suara keluar dari mulut seorang kakek yang berada di dekatnya. Si kakek minta tolong pada bocah itu, yang merupakan cucunya. “Ben, beliin engkong tape,” kata si kakek.

Si bocah langsung menghampiri kakeknya, mengambil uang receh dan menuju ke tempat tukang tape biasa mangkal. “Pekerjaan” itu sudah menjadi kebiasaan bagi si bocah.

Tak lama kemudian, dia datang. Tapi kali ini prilakunya agak aneh.

“Kong, gak ada tapenya, Kong,” kata bocah cebol itu sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Lu goblok lu, masak gak ada. Orang jualan bererot (berderet) di situ,” jawab si kakek sembari sewot.

“Lagi gak dagang kali, Kong.”

“Enggak, tiap hari pada dagang di situ.”

Si kakek lalu memperhatikan cucunya dengan seksama. Matanya berhenti pada tali celana kolor bocah. Si kakek langsung bertanya. “Itu apa yang lu gantung?”

“Tape.”

“Astagfirullah, lu kebangetan, makanan digantungin di celana.” Si kakek gregetan. Tapi Haji Ung, nama kakek itu, akhirnya cekikikan karena tak tahan melihat ulah jail cucunya itu.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, si cucu masih tetap jail. Di suatu pagi di studio radio miliknya, dia menelepon seorang teman di Bandung. Dia mengajak bicara mengenai kebiasaan sehari-hari si teman. Temannya lalu menceritakan aktivitas hariannya. Bahkan, hingga hal yang pribadi, termasuk kebiasaan buruknya saat mandi. Percakapan berlangsung beberapa menit. Sebelum menutup pembicaraan, Ben yang menelepon sambil cengengesan berkata, “Lu tahu nggak saat ini gue lagi wawancarai lu, untuk radio gue, dan suara lu sekarang lagi on air.” Karuan temannya kelabakan dan mengomel, “Sialan!” Read more »

Switch to our mobile site

Top