Posts Tagged ‘Bing Slamet’

BANG BEN : Raja Lenong Main Film

 

Ben bukan saja seniman serba bisa, tapi juga serba tidak puas.

OLEH: HENDRI F. ISNAENI – Majalah Historia

 

BAGAIMANA tidak, setelah sukses menyanyi dengan menelorkan sekitar 70 album rekaman, Ben kemudian main film. Dia terjun ke dunia perfilman di saat yang tepat: awal tahun 1970-an perfilman Indonesia mengalami masa keemasan. Saat itu, perfilman begitu menggairahkan. Permintaan pasar yang sangat besar telah menggeser film-film impor.

Munculnya film Pengantin Remaja makin memperkuat perfilman nasional. Sebelum dirilis di Indonesia, film ini sudah mendapatkan penghargaan di Festival Film Asia di Taipei, Taiwan. Dan beredar di Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Filipina. Bahkan, film ini menjadi film Asia pertama yang diputar di Jepang.

Dalam suasana seperti ini, Ben menginjakkan kakinya di dunia film. Film pertama yang dia bintangi adalah Honey Money and Jakarta Fair tahun 1970 garapan sutradara papan atas Misbach Yusa Biran. Film keduanya adalah Hostess Anita yang diproduksi pada 1971 dengan sutradara Matnoor Tindaon. Pada tahun yang sama, dia membintangi Brandal-brandal Metropolitan. Di kedua film ini, dia sudah mulai menunjukkan bakat melawaknya. Dia kemudian mendapat kesempatan yang lebih besar untuk bermain dalam Dunia Belum Kiamat yang bercorak komedi musikal, di bawah sutradara Nya’ Abbas Akup. Di film ini, dia mulai mendapatkan peran yang lumayan dibandingkan film-film sebelumnya yang hanya menjadi bintang tamu atau untuk menyanyi. Akting Ben di Dunia Belum Kiamat menarik perhatian sutradara Nawi Ismail. Dia diberikan peran dalam Banteng Betawi, film kelanjutan dari Si Pitung. Read more »

Ngider-Ngelenong-Ngerap

Bukan hanya legendaris gambang kromong tapi juga bapak rap Indonesia.

OLEH: MF. MUKTHI – Majalah Historia

SUATU hari, Ben sangat ingin bertemu Bing Slamet, artis pujaannya. Ben ingin lagu ciptaannya dinyanyikan Bing. Ben putar otak. Akhirnya dia dapat akal: lewat Ateng, Ben dikenalkan pada Bing. Ben lalu menemui Bing di studionya, dan menawarkan lagunya. “Ini Bang lagunya,” kata Ben.

Bing membaca sekilas, mencoret-coret sedikit dan mengubah syairnya. Ben tampak puas. Dan benar, setelah lagu berjudul Nonton Bioskop itu dirilis –yang delapan tahun sebelumnya ditolak penyanyi Fenti Effendi –langsung meledak. Ben senang bukan kepalang. Dia pun ketagihan menulis lagu. Tapi, atas saran Bing Slamet, sebaiknya Ben menyanyikan lagu-lagunya sendiri. Anjuran Bin terbukti manjur. “Titik awal karier seni profesional Ben bermula dari band kecil bernama Melody Boys,” tulis Ludhy Cahyana dalam biografi Benyamin, Muka Kampung Rezeki Kota.

Bersama Rachman A, Rahmat Kartolo, Pepen Effendi, Imam Kartolo, Saidi, Zainin, Suparlan, Timbul, dan Yoyok Jauhari, Ben terus ngider dari satu klab ke klab lain, satu pentas ke pentas lainnya untuk mengejar popularitas. Ketika peruntungan mulai mendekat, pemerintahan Sukarno melarang segala yang berbau Barat. Daripada disetip peraturan, Melody Boys terpaksa berganti nama menjadi Melodi Ria.

Di tengah-tengah perjuangan bermusik itu, Ben juga nyambi ngelawak agar asap dapurnya tetap mengepul. Ben pelawak alami. Darah kocak sudah mengalir deras dalam dirinya sejak kecil. Kedekatannya dengan Letnan Dading dari Kodam Jaya membawanya begabung dalam kelompok seni Kodam Jaya. Bersama Edi Gombloh dan Dul Kamdi, Ben kemudian membentuk grup lawak Trio Kambing. Mereka lalu tur ke berbagai daerah sesuai permintaan. Read more »

Switch to our mobile site

Top