Posts Tagged ‘Bangunan Cagar Budaya di Wilayah DKI Jakarta’

MUSEUM DAN IDENTITAS BETAWI

101_5672

Oleh : Mona Lohanda

 

Pengantar

Dari sebuah buku kecil, Bangunan Cagar Budaya di Wilayah DKI Jakarta,  yang diterbitkan oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta tahun 1995, mari kita mencatat berapa jumlah museum yang tersebar diwilayah Jakarta Raya yang pengelolaannya berada di bawah Pemerintah DKI Jakarta.

Ada Museum Prasasti, Museum Joang ’45, Museum MH Thamrin (saat itu masih sebagai rumah yang berstatus cagar budaya) di Jakarta Pusat. Di Jakarta Barat ada Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Tekstil. Di Jakarta Utara satu-satunya yang ada adalah Museum Bahari, sementara di dua wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur tidak tercatat adanya museum yang dikelola oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Menarik untuk diamati bahwa dua wilayah  Jakarta Barat dan Jakarta Pusat memiliki banyak museum yang bangunannya sekaligus berstatus cagar budaya. Karena bentuk arsitektur bangunan di kedua wilayah yang mewarisi bangunan kolonial, patutlah dipuji usaha Pemerintah DKI di bawah gubernur Ali Sadikin untuk menjaga-merawat bangunan-bangunan tersebut dengan menjadikan bangunan-bangunan tersebut sebagai museum. Dengan begitu, orang akan mencari tahu tidak hanya karena tampilan fisik bangunan berarsitektur kuno tetapi juga belajar dari isi koleksi museum yang bersangkutan.

Tetapi kalau diamati lebih lanjut, kebanyakan museum tersebut jika dilihat dari koleksi dan representasi makna keberadaanya tidaklah mencerminkan karakater lokal Jakarta, tetapi lebih menunjukkan keberadaannya di wilayah Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia. Sebut saja misalnya, Museum Joang ’45 yang sejak awal tidak merepresentasikan Jakarta dari aspek historis maupun karakter identitasnya. Gedung itu menjadi bangunan bersejarah karena merupakan Asrama Angkatan ’45 dimana para pemuda berkumpul belajar menempa diri untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka ketika bangunan itu dijadikan museum muncul sejumlah kerepotan dalam pengelolaan dan pengisian materi yang cocok dengan sejarah gedung, karena harus berbenturan dengan materi sejarah perjuangan nasional yang direpresentasikan oleh Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda dan Museum Naskah Proklamasi yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sama halnya dengan Museum Tekstil, Museum Wayang dan Museum Seni Rupa dan Keramik. Koleksi yang ada di ketiga museum tersebut sama sekali dengan merepresentasikan ciri khas kelokalan Jakarta, apalagi karakater ke-Betawi-an yang sedikitpun tidak terlihat. Read more »

Switch to our mobile site

Top