Entong Gendut : Jagoan dan Pejuang dari Condet

Berdasarkan naskah Carita Parahiyangan, diketahui bahwa kerajaan Pajajaran yang berpusat di Pakuan, Bogor, di masa Prabu Siliwangi (1482- 1521) memiliki tentara reguler sebanyak 100.000 orang. Penduduk Pakuan sendiri hanya 50.000 orang. Hampir sama dengan jumlah penduduk Nusa Kalapa (Jakarta).

Bagaimanakah Prabu Siliwangi membiayai tentaranya yang sebanyak itu? Dari hasil pertanian. Kerajaan menyediakan areal tanah garapan. Kepemilikan tanah hanya pada kerajaan. Tidak ada hak milik pribadi. Kerajaan menyediakan infrastruktur, prasarana, seperti parigi (irigasi) dan pencetakan sawah.

Penggarapan tanah Raja dengan prinsip bagi hasil. Setiap empat gedeng padi, petani mengambil satu gedeng. Jika perolehan petani berlebih, maka padinya itu dapat dijual pada kerajaan. Prinsip yang sama juga dikenakan pada lada. Untuk setiap empat bahar lada, petani mendapat satu bahar. Prinsip bagi hasil 5-1 juga diberlakukan dalam pengolahan gabah menjadi beras.

Seluruh hasil tanah dan kebun, yang menjadi milik Raja,  dikumpulkan di Warung Borong (yang berfungsi semacam Bulog). Saudagar-saudagar lada, dan beras, yang datang dari mancanegara pergi ke Warung Borong untuk mendapatkan komoditas pertanian.

Ketika datang penjajahan Belanda (1619) untuk kurun waktu satu abad lamanya status tanah mengalami transisi. Dalam masa itu tanah merupakan “milik penggarap”, kerana kerajaan-kerajaan sudah tidak berdaulat lagi. Pada permulaan abad XVIII, Belanda mengeluarkan peraturan tentang tanah Partikulir. Dengan peraturan ini secara diam-diam Belanda menganggap bahwa tanah bekas milik kerajaan itu tanah mereka. Ordonansi Tanah Partikulir, peraturan kepemilikan tanah, berisi hak memiliki tanah bagi pengusaha asing dan lokal dengan luas tak terbatas asal membayar sejumlah uang.

Ordonansi Tanah Partikulir telah menyulut perlawanan para petani diseluruh Tanah Jawa. Tidak terkecuali di Batavia, Jakarta, dan sekitarnya. Perlawanan itu bermula pada pertengahan abad XIX seiring dengan meluasnya tanah yang dibebaskan oleh tuan-tuan tanah. Tuan tanah mengenakan peraturan seenaknya kepada para petani. Petani itu sendiri merasa tanah yang digarapnya adalah miliknya sejak berakhirnya masa kerajaan.

Lady Rollinson adalah perempuan bangsawan Inggris yang memiliki tanah yang amat luas di Cililitan Besar, Jakarta Timur. Condet, Tanjung Barat, dan Tanjung Timur termasuk Cililitan Besar. Lady Rollinson memiliki tanah Cililitan Besar sejak tahun 1915. Ia amat kaya. Ia memiliki rumah gedung di Tanjung Barat. Rumah ini terbakar pada tahun 1980-an. Dan sejak itu, rumah yang tergolong peninggalan sejarah itu  tidak pernah dipugar lagi dan dibiarkan menjadi puing-puing.

Di rumah inilah, yang oleh orang Betawi disebut gedong, Lady Rollinson setiap malam Minggu menjamu tamu-tamunya dengan pesta pora. Sementara itu petani Condet dan sekitarnya hidup kian menderita. Sewa tanah garapan makin ditingkatkan.

Muncullah tokoh lokal yang bernama Haji Entong Gendut. Tong Gendut, begitu ia biasa dipanggil, seorang jagoan (jawara) dari Condet. Terkenal amat teguh memegang prinsip, pernah ada tawaran dari Belanda untuk menjadi raja muda di Condet tetapi ditolaknya, sehingga meletuslah perang di Condet. Ia gugur ditembak peluru Kompeni, ketika melakukan penyerbuan ke rumah tuan tanah di Kampung Gedong. Untuk mengenang jasanya, namanya pernah diabadikan untuk nama sebuah jalan. Namun dalam perkembangan diganti menjadi Jl. Ayaman, nama seorang tuan tanah yang pernah tinggal di tempat tersebut. Semasa hidupnya ia telah mengerjakan ibadah haji, maka nama lengkapnya Haji Entong Gendut.

Menyaksikan semua penderitaan rakyat itulah, timbul kemarahan dalam diri Tong Gendut. Ia mengumpulkan pengikut-pengikutnya. Tong Gendut menjelaskan bahwa tanah ini milik leluhur, kenapa kita harus membayar sewa kepada orang Inggris.

Pada suatu malam Minggu di 5 April 1916  Tong Gendut dengan sejumlah pengikutnya mengepung rumah Lady Rollinson yang sedang berpesta pora. Di depan rumah Lady Rollinson itu yang dijaga oleh para centeng-centengnya, Tong Gendut berseru bahwa orang-orang yang sedang berpesta itu yang menjadi sebab kesengsaraan hidup orang Condet. Tong Gendut memerintahkan pengikutnya menyerbu persta sambil berseru, “Sabilullah gua kagak takut”. Pesta bubar.

Keesokan harinya polisi, atau opas kerana tidak bersenjata api,  dengan kekuatan 12 orang mengepung rumah Tong Gendut. Tong Gendut sudah menyiapkan perlawanan. Kerana kepungan polisi itu sudah diperhitungkannya. Perlawanan pun terjadi. Tong Gendut dan pengikutnya mengamuk. Empat orang polisi tewas ditebas batang lehernya dengan golok Betawi.

Keesokan harinya di pagi hari serdadu Balanda dengan kekuatan satu kompi mengurung daerah Condet dan sekitarnya. Rumah Tong Gendut terkepung. Dengan golok yang masih berlumur darah Tong Gendut keluar rumah. Satu regu serdadu yang mendekatinya diterjang sambil berseru, “Sabilullah gua kagak takut”. Golok Tong Gendut mengayun di udara, disambut puluhan butir peluru yang menyalak dari laras senapan. Tong Gendut rebah dalam perlawanan.

Mengenai kematian Entong Gendut terdapat berbagai versi: 1) Entong Gendut meninggal bukan di Kampung Gedong namun di Batuampar, saat melewati sungai karena dikejar-kejar Kompeni; 2) Jenazah Entong Gendut diangkut oleh Kompeni, kemudian diceburkan ke laut. Bahkan makamnya pun tak diketahui rimbanya, ada yang mengatakan di Kemang, Jakarta Selatan, namun ada juga yang mengatakan di Kampung Wadas, Bogor. Saat meninggal Entong Gendut meninggalkan tiga anak, yaitu Abdul Fikor, Aiyoso, dan Aisyah.

Source : Ridwan Saidi dan http://www.jakarta.go.id/jakv1/encyclopedia/detail/518

You can leave a response, or trackback from your own site.

Switch to our mobile site

Top