Ratu Adil, Islam dan Petani

 

Oleh : Ridwan Saidi

 

Perkataan Ratu Adil sangat populer di kalangan rakyat. Sampai-sampai  Kapten KNIL Raymond Westerling menyebut tentara pemberontak yang dipimpinnya sebagai Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Konsep Ratu Adil berasal dari dunia pewayangan. Konsep ini menjanjikan harapan kepada rakyat tertindas bahwa suatu hari mereka akan terlepas dari belenggu kemiskinan bila datang  Ratu Adil. Raja yang sangat adil yang memberikan perlindungan kepada seluruh rakyat tanpa pilih kasih termasuk petani.

Konsep Ratu Adil ada kemiripannya dengan konsep Imam Mahdi di kalangan Islam. Ketika Imam Khomeini tahun 1979 masih di Navleau Le Chateau, Perancis, dan menunggu saat yang tepat terbang ke Teheran dengan pesawat Jumbo Jet yang disediakan Perancis, wartawan di Teheran bertanya kepada Ayatullah Shariat Madari, “Apa Imam Mahdi akan tiba?”. Shariat Madari menjawab, “Ya. Tapi tidak dengan Jumbo Jet”.

Bila kita hanya berpegang kepada anggapan bahwa pemberontakan petani karena dimotivasi oleh konsep Ratu Adil, niscaya kita tersesat dan mengabaikan faktor ideologi yang berada di balik pemberontakan petani. Sampai dengan pemberontakan petani abad XIX kita dapat menerima pandangan ini, tetapi pemberontaklan awal abad XX sudah mempunyai motivasi ideologis. Pemberontakan petani Cimareme 1919 yang dipelopori Hasan adalah pemberontakan yang mempunyai warna ideologi Islam. Hassan adalah anggota Sarekat Islam Afdeling B, bawah tanah. Banyak ulama-ulama Jawa Barat yang menjadi anggota Sarekat Islam Afdeling B antara lain Ustadz Ahmad Hassan, guru Bung Karno.

Tokoh-tokoh pemberontak termasuk Hassan (bukan Ustadz Ahmad Hassan) ditangkap dan dihukum gantung di alun-alun Tegalega, Bandung. PKI pernah mempublikasi gambar dokumentasi ini dan gambar-gambar lain dalam bentuk album. Karena mereka sangat lihai dalam mengumpulkan dokumentasi maka pemberontakan Cimareme mereka claim sebagai pemberontakan PKI, yang ketika itu belum  lahir.  PKI baru didirikan pada tahun 1920.

Pemberontakan Silungkang 1926 juga bukan pemberontakan komunis. Tokoh pemberontak adalah Datuk Batuah. Menurut cerita Hamka kepada penulis, ada 3 orang murid terbaik dari madrasah Surau Jambatan Basi Minangkabau, mereka adalah Karim Amarullah, kemudian jadi ulama Sunni penyebar Islam, Abu Bakar Ayub, kemudian jadi pendiri Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Bersama zending, utusan, Ahmadiyah dari Qadian Rahmat Ali H.A.O.T., Ayub mengeroyok Ustadz Ahmad Hassan dalam suatu perdebatan besar tahun 1933.

Datuk Batuah seorang yang sangat radikal. Zending Muhammadiyah dari Jawa diusirnya pulang, “Untuk apa kamu mengajar mengaji di ranah Minang, kami lebih tahu dari kalian. Yang kami perlukan disini bagaimana cara menggulingkan kereta api, bukan dharaba zaidun amran (pelajaran dasar bahasa Arab). Lebih baik kalian pulang ke Jawa kalau tak pandai mengajarkan kami sabotase”, kata Datuk Batuah sebagaimana dikisahkan Buya Hamka kepada pemulis.

Datuk Batuah memimpin gerakannya secara intelek. Ia menerbitkan majalah yang diberi nama Jago Jago. Ada pun pemberontakan yang dipimpinnya gagal dan dia sendiri dibuang ke Digul. Para pengikutnya menjadi urang talu, orang usiran, antara lain Na’im, orang Maninjau yang merupakan ayah kandung Dja’far, yang kemudian hari menjadi D.N. Aidit alias Dja’far Na’im Aidit. Na’im diusir ke luar ranah Minangkabau. Bersama isteri dan anaknya, Dja’far, mereka menuju Bangka.

Di perusahaan timah Bangka Belitung Na’im bekerja sebagai kerani, juru tulis. Lalu lahirlah Sobron, adik Dja’far. Tak lama kemudian Na’im meninggal, Kemudian hari jandanya menikah lagi dengan seorang Arab: Aidit. Entah atas pertimbangan apa D.N. Aidit menghapus jejak masa lampaunya.

Para penganjur pemberontakan petani di Jawa adalah tokoh SI antara lain Haji Misbach. Jadi, pada awal abad XX pemberontakan petani mempunyai warna Islam yang kuat. Kemudian hari dinyatakan sebagai pemberontakan komunis. Tidaklah jelas benar semboyan yang amat terkenal dan menggetarkan Sama Rata Sama Rasa siapa yang menciptakan. Dapat dipastikan dari kalangan SI, entah SI Merah atau SI Putih. Tidak mesti dari komunis walau semboyan itu terasa egaliter.

Sasaran pemberontakan petani bahkan ada yang sangat kongkrit yaitu menjadikan Haji Omar Said Tjokroaminoto sebagai Raja Jawa menggantikan Ratu Wilhelmina, sebagaimana diungkapkan oleh Sartono Kartodirdjo. Pihak kolonial sangat serius dengan issue ini bahkan menuduh HOS Tjokroaminoto menerima bantuan 2 juta gulden dari Jerman untuk menyiapkan sebuah pemberontakan besar. Deliar Noer sangat tidak yakin akan tuduhan tersebut.

Seorang sahabat penulis bernama Hussein Badjerei (alm). Ia putera Abdullah Badjerei seorang murid Ahmad Syoorkati pendiri Al Irsyad. Suatu hari jago Tenabang, Jakarta Pusat, Bang Derahman Jeni, yang kemudian hari menjadi ayah angkat Hussein, mendatangi Syoorkati dengan golok terhunus. Bang Jeni mendengar issue bahwa Syoorkati “ada main” dengan isteri tokoh PKI Alimin yang dibuang ke Digul. Syoorkati menjelaskan bahwa issue itu fitnah. Yang benar, Syoorkati membiayai kehidupan isteri Alimin, dan sebagian keluarga Digulis lain. “Suami-suami mereka berjuang di jalan Allah”, kata Soorkati  sebagaimana dituturkan Hussein.

Pandangan bahwa pemberontakan petani dipicu oleh konsep tentang Ratu Adil tidak sepenuhnya benar. Terutama pemberontakan petani abad XX amat terkait dengan jaringan Islam.

You can leave a response, or trackback from your own site.

Switch to our mobile site

Top